Sunnah Rasulullah: Berikanlah Hadiah kepada Anak

Dalam beberapa bulan belakangan ini K sedang bersemangat untuk belajar menaiki sepeda. Sepeda baru tersebut merupakan hadiah dari kami untuk keberaniannya berkhitan.

 
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mensunnahkan suatu kaidah tentang cinta antarmanusia.

Beliau bersabda, “Saling memberi hadiah di antara kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.”

Memberikan hadiah kepada anak mampu membentuk emosi dan perasaan anak. Beliau memberikan hadiah kepada cucunya Umamah binti Abil ‘Ash dari putri beliau Zainab.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:
Hadiah-hadiah dari an-Najasyi telah tiba. Salah satunya adalah cincin emas bermata Habasyi. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mengambilnya dengan ranting atau dengan jari beliau sambil memalingkan muka. Kemudian beliau memanggil Umamah binti Abil ‘Ash dari putri beliau Zainab. Beliau bersabda, “Pakailah perhiasan ini, wahai anakku.”

Manakala mengajak K (3 tahun 5 bulan) untuk berkhitan sewaktu usianya menginjak 3 tahun, kami menanyakan kepadanya hadiah apa yang diminta.

“Kakak mau sepeda walna hijau muda.”

Alhamdulillah, Kakek membelikannya sebagai hadiah khitan. K pun melewati masa-masa pemulihan ditemani sepeda baru.

Dengan memakai celana khusus khitan usai dilakukan tindakan bedah oleh dokter spesialis urologi, K setiap hari mencoba menaiki, mendorong, mengayuh, bahkan memainkan roda sepedanya.

Seminggu kemudian ketika luka khitan telah mengering, ia dengan penuh percaya diri bertengger di atas sadel dan berhasil mengayuhnya di dalam rumah.

Tak berapa lama kemudian K meminta kami untuk menemaninya mengayuh sepeda di sekitar rumah.

Dalam memberikan hadiah kepada K ada sejumlah hal yang kami lakukan, diantaranya sebagaimana yang tertera berikut ini.

1. Tanyakan hadiah apa yang diminta

Manakala kemampuannya untuk berkomunikasi semakin terasah, K belajar untuk mengutarakan keinginannya.

Begitu pula saat berencana memberikannya hadiah khitan, kami menanyakan terlebih dahulu apa yang dia mau.

Proses tersebut secara tak langsung membuat K belajar memutuskan sesuatu dengan caranya sendiri. Tentunya kami mengarahkan agar tetap berjalan di rel yang benar.

2. Ajak anak untuk ikut terlibat

Dalam beberapa kesempatan, kami mengajak K untuk membeli hadiah untuknya.

Mulai dari hal yang sederhana, umpamanya ketika dia berhasil mengumandangkan adzan dari awal hingga akhir, kami akan membelikan es krim favoritnya.

Di lain waktu manakala ia secara sukarela mau membantu membereskan mainan, menyapu sendiri serpihan makanan yang tumpah di lantai dengan sapu kecilnya, hingga membantu menyiram tanaman maka kami mengapresiasi dengan membuatkannya mainan atau jajanan buatan rumah.

Hadiah-hadiah kecil dari kami adalah suatu bentuk apresiasi. Tak melulu dengan membeli, membuatkannya makanan maupun mainan juga acapkali dilakukan bersama.

3. Mengucap syukur Alhamdulillah sewaktu menerima hadiah

“Alhamdulillah, Kakak dapat hadiah. Terima kasih ya Allah…”

Saat menerima hadiah, jangan lupa untuk mengajarkan kepada anak bahwa segala nikmat datangnya dari Allah SWT.

Sudah sepatutnya kita mengucapkan syukur kepada-Nya. Bukankah Dia akan menambahkan nikmat yang lebih banyak bila kita mampu mensyukuri nikmat yang ada?

Poin ketiga ini masih kami coba terapkan kepada K. Acapkali K lupa atau enggan untuk mengucapkannya.

4. Mengucapkan terima kasih kepada pemberi hadiah

Usai mengucapkan syukur kepada Allah SWT, yang dilakukan berikutnya adalah menyampaikan rasa terima kasih kepada sang pemberi hadiah.

Tak lupa, ajak anak untuk mencium tangan kepada yang memberikan hadiah.

5. Mintalah kepada anak untuk menjaga dan merawat hadiah dengan baik

Seyogyanya, poin ke-5 diterapkan bila anak sudah mulai paham tentang arti tanggung jawab.

Namun, untuk mengenalkannya sedini mungkin, tak ada salahnya untuk dicoba. Dengan catatan, tak selalu berakhir sama sesuai yang dikehendaki orang tua.

Untuk itu, berikan apresiasi bila anak mau menjaga dan merawatnya. Bila kadangkala anak masih belum bisa maka orang tua harus berbesar hati dan mencoba terus di kemudian hari. Yang paling penting adalah senantiasa berikhtiar.

Ada yang mau menambahkan?

 

Referensi:
“Prophetic Parenting: Cara Nabi Mendidik Anak” oleh DR. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, Penerbit Pro-U Media

Nia Efendi

Assalamualaikum.. Kindly drop your comments, advices, ideas, or else below. Be wise please. Bunches of thanks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*