DIY Buku Aktivitas: Angka

Mengenalkan konsep angka kepada anak usia dini tak melulu melalui permainan yang mahal. Dengan bahan yang ada di rumah, kita bisa membuat salah satu buku aktivitas sederhana berikut.

 

Bilamana si kecil mulai menunjukkan minat pada proses pembuatan prakarya yang dilakukan oleh orang tua, tak ada salahnya untuk mengajak mereka ikut serta.

Dengan melibatkan anak, secara tak langsung mereka akan belajar banyak hal dengan sendirinya.

Buku aktivitas bertemakan angka ini dibuat manakala K sedang berusia 2 tahunan, dimana kala itu dia mulai tertarik untuk meniru apapun yang kami lakukan.

Lantaran menggunakan biji kacang hijau yang ukurannya kecil, saat masuk ke tahapan menempel kami tak mengijinkannya untuk membantu.

Hal ini bukanlah tanpa alasan. Kami hanya mencegah agar biji kacang hijau tersebut tidak tertelan mengingat K terkadang masih suka memasukkan benda ke dalam mulutnya.

Di usianya yang sekarang, K (3 tahun 3 bulan) mulai mengeksplorasi konsep angka dengan caranya sendiri.

Dia akan menyusun lego, mobil-mobil hot wheels , miniatur hewan, spidol aneka warna, krayon, biji salak, biji kelengkeng, dan lain sebagainya.

Selanjutnya, deretan benda-benda tersebut akan dihitung sesuai angka yang dikuasainya.

Awalnya, kami hanya mengenalkannya pada angka 1 hingga 5. Kemudian K tertarik untuk menanyakan deretan angka 6 hingga 10.

Untuk tahap pengenalan ini, K pelan-pelan melakukan pembelajaran mandiri.

Artinya, dia mencari benda-benda di dalam rumah yang mencantumkan deretan angka dan kemudian membacanya.

Bila ada yang belum dimengerti, ia akan bolak-balik menanyakannya kepada kami.

Umpamanya meteran untuk pertukangan, meteran untuk menjahit, stiker untuk mengukur tinggi badan, remote teve, keyboard laptop, hingga kalkulator.

Bila sedang memegang salah satu benda tersebut, K akan dengan lantang menyebutkan deretan angka 1 hingga 10.

Namun, ketika melihat meteran mencantumkan deretan angka asing setelah angka 10, K mulai penasaran angka apakah itu.

Lama-lama, dia mulai mengenali angka 11 hingga 20 melalui meteran tersebut.

Lain halnya dengan kalkulator. Hampir setiap hari melihat pemilik toko kelontong mengkalkulasi daftar belanjaan Ibu, K pun tertarik untuk memainkannya.

Di layar kalkulator terdapat deretan panjang angka dan K tak henti-hentinya memencetnya dan meniru gaya pemilik toko kelontong saat sedang menghitung belanjaan.

“Ibu, satu sama dua jadinya belapa?”
“Oh, itu angka 12.”

“Ayah, satu sama nolnya dua jadinya apa?”
“Angka 100, Kak.”

“Ibu, tempe halganya belapa?”
“Tempe ya? Tiga ribu.”

“Ikannya halga belapa, Ibu?”
“Hmmm…Sebentar, tadi berapa ya? Kayaknya sih lima belas ribu, Kak.”

Dan aneka dialog lainnya mengenai angka. Dua dialog terakhir adalah percakapan kami sewaktu K bermain kalkulator.

Bilamana harga yang disebutkan membuatnya bingung maka kami memberi contoh angka mana yang harus dipencet.

Apapun yang kami beli di pasar maupun supermarket sekarang ini akan coba dihitung ulang oleh K dengan kalkulator kecilnya. Haha.

Nia Efendi

Assalamualaikum.. Kindly drop your comments, advices, ideas, or else below. Be wise please. Bunches of thanks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*