DIY Buku Aktivitas: Hutan

Tidak memberikan gadget dan membatasi waktu menonton televisi selama satu hingga dua jam sehari, membuat K beraktivitas fisik lebih banyak. Jalan-jalan mengamati lingkungan sekitar, belajar naik sepeda, melihat burung, mencari suara pesawat terbang di angkasa, mewarnai, hingga membaca.

 

Pemberian screen time yang bijak, terbukti telah membuat K (3 tahun 2 bulan) lebih senang untuk melakukan aktivitas tersebut.

Satu-satunya saluran televisi yang kami berikan ketika screen time tiba adalah program bahasa Inggris yang mengenalkannya pada banyak hal, umpamanya huruf abjad, angka, profesi, warna, bentuk benda, pengelompokan benda berdasarkan kriteria tertentu, alat transportasi, hingga belajar kosakata baru.

Tentunya, kesemuanya dia tonton dengan pendampingan dari kami.

Selain untuk memberikan penjelasan tentang apa yang ditampilkan dan memberitahunya kapan screen time akan segera berakhir, kami juga bisa mengamati apa yang sedang menarik perhatiannya.

Pun demikian saat membuatkannya buku aktivitas berikut yang dibuat sebelum K berusia 2 tahun sewaktu dia senang melihat hewan dan alam di sekitarnya.

Walaupun sudah satu tahun berlalu, K masih antusias untuk memainkannya.

Dulu sewaktu masih berusia 2 tahunan, K akan meminta kami untuk melepaskan perekat yang menempel di bagian belakang kertas bekas sereal yang telah kami gambar.

Kemudian, K akan bertanya gambar apa yang dia pegang, melihat gerak bibir kami saat melafalkannya, lalu menempelkan gambar di bukunya.

Sekarang, K senang menggambar sesuai imajinasinya.

Pastinya, gambar yang dihasilkan masih berupa coretan garis dan tumpukan warna yang amburadul.

Namun, saat ditanya K akan menjelaskan dengan detail objek yang digambarnya.

Misalnya, sewaktu menggambar pohon.

Dua buah garis vertikal dibuat menyerupai batang pohon dengan menorehkan spidol aneka warna di buku gambar.

Batang pohon kemudian diwarnai dengan spidol atau krayon. Kemudian, beberapa batang pohon menyusul dibuat di sebelahnya. Begitu seterusnya.

“Kakak, bikin gambar pohon ya?”
“Iya, Ibu.”
“Waaah banyak ya! Lho, daunnya mana, Kak?”
“Gak ada, Ibu. Ini pohon mangga, walna meyah, biyu, hijau, banyaaaak!”

Rupanya, dia meniru gambar pohon yang kami buat. Namun hanya batangnya saja, tanpa daun di atasnya. Hahaha.

Nia Efendi

Assalamualaikum.. Kindly drop your comments, advices, ideas, or else below. Be wise please. Bunches of thanks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*