Mengenang Kejayaan Bahari di Museum Kapal Samudraraksa

Setelah sebelumnya berkeliling melihat koleksi kereta kuda Keraton Yogyakarta, pada kesempatan kali ini kami mengajak K untuk melihat kapal yang dahulu kala menjadi kapal modern pertama dan menjadi simbol kejayaan bahari Indonesia.

 

Kendati tiga tahun sebelumnya telah menginjakkan kaki di kompleks Borobudur, kami benar-benar tak mengetahui ada museum kapal di dalamnya.

Saat mengunjunginya pada bulan Oktober 2017 lalu, tak sengaja kami melewati sebuah papan yang bertuliskan Samudraraksa Ship Museum/Museum Kapal Samudraraksa, yang juga menyertakan tulisan aksara Jawa.

Tanpa berpikir panjang, kami bertiga segera menyusuri jalan setapak dan menemukan pintu masuk museum.

Usai mengisi buku tamu, kami berpapasan dengan pengunjung lain yang membawa serta anak balitanya.

K (3 tahun 1 bulan) tertarik untuk mengajak balita tersebut untuk bermain.

Dari lorong masuk museum hingga ke ujung pintu keluar, dia malah asyik berlarian bersamanya. Senang bertemu dan bermain dengan teman baru, K?

Sementara itu, Ibu mencoba mengamati setiap detail museum, bergantian dengan Ayah.

Manakala sedang membaca suatu informasi dan kemudian K pindah ke ruangan lain maka berakhir sudah dan harus sesegera mungkin beranjak untuk mengejar K.

Museum Kapal Samudraraksa menampilkan jalur perdagangan bahari antara Indonesia purba, Madagaskaf, dan pesisir Afrika Timur, yang mahsyur dijuluki “Jalur Kayumanis”.

Koleksi utama pameran museum ini adalah rekonstruksi Kapal Borobudur dalam ukuran sesungguhnya yang telah menempuh perjalanan napak tilas mengarungi Samudra Hindia dari Jakarta menuju Accra, Ghana pada tahun 2003-2004 lampau.

Puas berkeliling di dalam museum yang dipenuhi koleksi dan informasi mengenai tradisi bahari yang telah lama berkembang di Indonesia dengan adanya bukti lukisan di dinding gua zaman prasejarah, jalur perdagangan awal abad Masehi, ditemukannya kapal kayu kuno beserta muatannya yang beragam, berbagai peralatan yang digunakan para awak Kapal Borobudur saat ekspedisi tahun 2003-2004 silam, rempah-rempah yang diperdagangkan, hingga alat pembuatan kapal tradisional.

Di penghujung pintu keluar museum, replika Kapal Borobudur sudah menanti dengan gagahnya. Kita bisa masuk, berkeliling, ataupun mengambil foto dengan biaya tertentu.

Sayangnya, kami tak memiliki kesempatan untuk melihat lebih dekat Kapal Borobudur.

Menginjakkan kaki pada pukul 8 pagi di areal Borobudur, mendaki puncak pertamanya dan berkeliling sebentar, kemudian masuk ke dalam Museum Kapal Samudraraksa, tak terasa hari telah menjelang siang.

Usai melihat replika Kapal Borobudur dari pintu masuk dan mengabadikannya, kami segera beranjak pergi dan mengejar bis di terminal terdekat menuju destinasi berikutnya.

Mengunjungi Museum Kapal Samudraraksa sungguh sebuah petualangan yang mengasyikkan sembari mengenang kejayaan bahari Indonesia.

Bagaimana, tertarik mengunjunginya saat liburan nanti?

Referensi:
Wikipedia

Nia Efendi

Assalamualaikum.. Kindly drop your comments, advices, ideas, or else below. Be wise please. Bunches of thanks.

2 thoughts on “Mengenang Kejayaan Bahari di Museum Kapal Samudraraksa

    1. Halo mba. Sama! Aku juga baru nemu tahun 2017 kemarin, itu aja ga sengaja baca ada signage museum kapal, setelah turun dari Borobudur ke arah pintu keluar coba jalan pelan-pelan sambil nanya ke petugasnya, siapa tau lain kali bisa ke museum kapalnya yah. Thanks udah main-main 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*