Suatu Pagi di Kampung Nelayan Bangkalan

Liburan kali ini kami mengajak K untuk menyelami kehidupan para nelayan tradisional di Kelurahan Pangeranan, Bangkalan. Yuk, simak cerita selengkapnya!

 

Mengonsumsi ikan yang berasal dari laut Indonesia, selain menyediakan aneka jenis ikan yang bisa dibeli dengan harga terjangkau, secara tak langsung juga berandil besar untuk menopang kehidupan para nelayan.

Khususnya mereka yang masih menggantungkan hidup dengan berprofesi sebagai nelayan tradisional di pesisir pantai.

Pada suatu pagi, kami mengajak K (32 bulan) untuk berjalan kaki menyusuri areal sungai yang dipenuhi lalu-lalang perahu berisi hasil tangkapan nelayan.

Matahari belum begitu terik, namun cahayanya sangat menyilaukan.

Kami yang sedang asyik mengamati aktivitas para nelayan dengan mata telanjang pada pukul 9 pagi harus rela terpanggang mentari.

Ayah dan K bergegas menaiki jembatan yang berada di tengah sungai. Sungai yang tak begitu lebar tersebut bermuara ke Laut Jawa.

Tak perlu menunggu lama, sebuah perahu nelayan lewat di bawah kami.

“Ibu, ada pahu.” (Ibu, ada perahu)
“Ayah, ada ikan.”

Puas mengamati dengan bersandar pada jembatan, kami tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengintip hasil tangkapan salah seorang nelayan.

Terlihat seorang anak ikut membantu melepaskan beberapa ikan, bintang laut, kerang, rajungan, dan hewan laut lainnya yang terjebak di jaring-jaring.

Segera setelah pulang dari laut, jaring-jaring akan diikatkan pada batang pohon untuk memudahkan proses memilah hewan laut yang terperangkap di dalamnya.

Tak hanya itu, teknik ini juga membuat pekerjaan merapikan jaring-jaring menjadi lebih efisien dari segi waktu dan tenaga.

Tangan-tangan terampil tampak begitu cepat memungut hasil buruan dan merapikan jaring-jaring dalam waktu yang bersamaan.

Bahkan sesekali mereka asyik bersendau gurau seraya melakukannya. Salut deh!

Saat berjalan-jalan, kami juga menemukan beberapa orang sedang bergotong-royong memperbaiki perahu.

Di salah satu ruas jalan yang kami lalui terdapat tumpukan cangkang kerang yang begitu banyak. K pun asyik berjalan-jalan di atasnya sembari meloncat.

Perjalanan singkat kami diakhiri dengan K yang asyik berlari menuju ke arah jalan pulang.

Lain kali main ke sini lagi ya, K? Siapa tahu kita bisa ikut berlayar ke laut menumpang salah satu perahu nelayan!

Nia Efendi

Assalamualaikum.. Kindly drop your comments, advices, ideas, or else below. Be wise please. Bunches of thanks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*