Enam Cara Melatih Kemandirian Anak Usia Dini

Kemandirian, idealnya sudah diterapkan sejak dini. Melalui hal-hal sederhana yang bisa diaplikasikan dalam rutinitas keseharian, konsep tersebut akan mudah dicerna oleh anak.

 

 

Pastinya, proses mengenalkan hingga melatih kemandirian memerlukan kerjasama dari kedua belah pihak. Baik pihak orang tua maupun sang anak.

Seiring perkembangan kemampuan yang dimiliki, tak sedikit juga akan menemui tantangan di tengah jalan. Tetap tenang dan konsisten adalah salah satu kuncinya.

Kedua hal tersebut kami temukan dan pelajari akhir-akhir ini. Seraya mengenalkan K (31 bulan) pada kemandirian, kami juga bersiap menerima penolakan darinya.

Semisal, mengajarinya untuk bisa makan dan minum sendiri. Kami melatihnya secara bertahap sejak K menunjukkan minatnya untuk memainkan piring dan sendok di usia 11 bulan.

Lima bulan berselang, atau saat K berusia 16 bulan, dia sudah bisa mandiri, meski masih ada makanan yang tumpah. Namun, dengan kuantitas yang lebih sedikit.

Tantangan datang manakala K menginjak usia 24 bulan, dimana kemampuan komunikasinya menjadi lebih baik.

Maka terjadilah proses negosiasi yang cukup alot saat memintanya untuk duduk di kursi dan mau makan dengan sukarela.

“K mau mame (main) duyu (dulu) Ibu.”
“Ibu, K dak (gak) mau mamam (makan).”
“Ibu, ayo sapin (suapin).”

Semakin menantang bukan? Haha.

Nah, hal sederhana apa yang mampu melatih kemandirian anak usia dini? Berikut ini pengalaman dari kami ya!

1. Makan dan minum

Menyiapkan anak untuk bisa mandiri saat makan dan minum berarti menyiapkan diri untuk menghadapi segala kerepotan yang nampak di depan mata.

Setiap kali menemani K makan, kami harus menyiapkan 2 porsi makanan dan minuman. Satu untuk kami, sedangkan satu untuk K.

Porsi untuk K tentu saja mayoritas berakhir dengan lantai dihiasi tumpahan, lengkap beserta alat makan yang ikut terlempar di bawah kursi makannya.

Insiden tersebut akan berangsur-angsur mereda bilamana keterampilan mengkoordinasikan tangan mulai bisa dikuasai dengan baik.

Di samping itu, proses eksplorasi akan tetap berjalan selama anak menunjukkan minat terhadap menu makannya. Alangkah baiknya berjaga-jaga dengan meletakkan alas di bawah kursi makan.

Percaya atau tidak, justru hal ini merupakan penanda baik bagi kami.

Jikalau K sangat tertarik dengan makanan di hadapannya, tentu dia antusias mengacak-acaknya, dan ujung-ujungnya seringkali menunya habis dilahap.

Lain ceritanya saat wajahnya datar melihat piring di depannya, bisa-bisa hanya mau beberapa suap saja.

Kalau sudah begitu, sisa makanan di piringnya harus masuk ke lambung ibunya. Wah, bahaya! Haha.

2. Mengisi gelas air minum

Beberapa bulan sebelum menginjak usia 2 tahun, K telah memiliki kepercayaan diri untuk mengisi gelas minumnya sendiri.

“Ibu, mimi (minum) habis.”

Itu merupakan sebuah sinyal bahwa K akan berjalan sendiri ke dapur, meletakkan gelasnya di dispenser, lalu sekuat tenaga bergantian memencet tombol yang ada.

Segala usahanya kadang hanya membuahkan beberapa sendok air, kemudian memanggil Ayah atau Ibu untuk meminta bantuan.

Airnya luber dan meluncur bebas ke lantai? Atau gelasnya jatuh di bawah dispenser dan harus dicuci beberapa kali? Ah, itu sudah biasa, tidak apa-apa! Haha.

3. Membereskan mainan

Mengingat keseharian K lebih banyak dihiasi dengan aktivitas fisik dan mengeksplorasi hal apapun di sekelilingnya, sebagai orang tua kami harus berlapang dada bahwa kondisi rumah akan jauh dari kata “rapi”.

Tak peduli berapa kali kami harus membereskan mainan maupun barang yang tergeletak dan berserakan di lantai, setiap kali kami selesai menatanya, beberapa saat kemudian pasti akan diacak-acak lagi oleh K.

Ya sudah, nyerah deh! Kalau tidak berantakan, tak bisa belajar banyak hal ya, K? Haha.

Untuk mengatasinya maka kami siasati dengan proses negosiasi. K boleh main apapun selama tak membahayakan, namun segera setelahnya harus ikut ambil bagian dalam sesi beres-beres.

Tentu, bagian yang kami serahkan kepada K adalah yang mampu dikerjakannya sendiri dengan mudah.

Semisal, menyusun kembali puzzle huruf hijaiyah, memasukkan play dough beserta cetakannya ke dalam wadahnya, atau membuang serpihan tisu/kertas/kain flanel ke tempat sampah.

4. Melepaskan diaper dan celana

Kendati masih belum lulus toilet training di malam hari, K terbilang sukses untuk bagian siang harinya.

Dalam seminggu, kami jumpai hanya beberapa kali dia ngompol saat tidur siang.

Sembari bersama-sama meluangkan waktu dan tenaga demi keberhasilan toilet training, kami juga meminta K untuk belajar melepas dan memakai celananya sendiri.

Untuk bagian melepaskan celana dan diaper, tentu perkara yang gampang. Yang menjadi pekerjaan rumah adalah bagaimana agar K mau memakainya sendiri, meski dengan sedikit bantuan dari kami.

Proses tersebut tentunya bukan hal yang instan, perlu konsistensi dan kesabaran.

Sebelum K memulainya, kami akan menyiapkan celananya dengan posisi yang akan memudahkannya.

Semisal, kami meletakkan celana tepat di depan kaki K, dengan posisi bagian gambarnya menghadap depan. Fungsinya, agar K mengenali mana bagian depan dan belakangnya agar tak terbalik.

“Kakak K, gambar mobilnya di bagian depan ya.”
“Kakak, ayo duduk dulu. Gambar helikopter di bagian depan ya.”

Trik ini berhasil, dengan diwarnai adegan celana terbalik pastinya.

Bila K sedang iseng, dia akan memasukkan semua kakinya di lubang celana yang sama hanya untuk menguji kesabaran kami. Haha.


5. Memakai dan melepas sandal

Keterampilan ini sebenarnya sudah dikuasai K saat dia berusia 1,5 tahunan.

Ketika K menunjukkan ketertarikan untuk memakai sandalnya sendiri maka kami memberikannya kesempatan.

Setelah melalui sejumlah trial error, tak perlu waktu lama untuk membuatnya terampil memakai dan melepaskan sandalnya tanpa bantuan dan tanpa terbalik.

Seringkali dia malah sengaja memakainya dengan posisi terbalik hanya untuk melihat bagaimana reaksi kami.

“Ibu, tandal (sandal) baik (terbalik).”
“Ayah, tandal (sandal) butan (butan) ini. Baik..baik..baik…(terbalik).”
“Ini sayah (salah). Butan (bukan) kanan. Ini kiyi (kiri).”

Kalau sudah tahu terbalik mengapa masih dipakai K? Ada-ada saja. Haha.

6. Toilet training saat sudah menunjukkan tanda-tanda kesiapan

Aktivitas selanjutnya yang bisa melatih kemandirian adalah dengan toilet training.

Pastinya, waktu yang ideal ketika anak telah memiliki beberapa tanda-tanda kesiapan.

Untuk kali pertama, K mengawalinya saat beranjak di usia 18 bulan. Kemudian, 5 bulan setelahnya, atau ketika berusia 23 bulan K mampu menguasai toilet training.

Dari hal sederhana tersebut, K belajar banyak hal.

Contohnya, belajar berkomunikasi saat mengatakan bahwa ia akan BAK/BAB, belajar menahan BAK/BAB ketika kami sedang berjalan-jalan di luar rumah sampai menemukan toilet, mampu melepas diaper dan celana sendiri, hingga menyiapkan pispotnya ketika akan BAK/BAB.

Bagaimana, apakah si kecil juga memiliki aktivitas melatih kemandirian yang sama dengan K?

Nia Efendi

Assalamualaikum.. Kindly drop your comments, advices, ideas, or else below. Be wise please. Bunches of thanks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*