Siomay Ayam Kembang Tahu

Anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan memerlukan kalori yang mampu mengimbangi tingginya aktivitas mereka. Sebagai orang tua, bijak dan cermat dalam memilih makanan selingan sudah sepatutnya dilakukan.

 

 

Di pasaran, beragam varian kudapan instan yang menyasar kalangan anak-anak bisa dijumpai dengan mudah. Bahan utama yang digunakan bisa dibilang masih tergolong aman, contohnya daging sapi, ayam, maupun ikan.

Namun, cara pengolahan dan bahan tambahan lain yang dimasukkan kedalamnya sebaiknya juga tak luput dari perhatian.

Tentu, makanan apapun akan lebih unggul kandungan gizinya bila diolah dalam kondisi segar.

Daging sapi segar masih lebih baik daripada sosis sapi yang ditambahkan pengawet dan pewarna. Selain itu, makanan instan biasanya juga memiliki penguat rasa.

Bagi mereka yang lidahnya telah terbiasa dengan makanan buatan rumah seperti kami, elemen penguat rasa tersebut memberikan kejutan tersendiri.

Rasanya memang jauh lebih “nendang”, tetapi apakah bagus bila dikonsumsi sehari-hari?

IMG_7210

Fakta di atas memang tidak boleh kami kesampingkan saat memberikan kudapan instan bagi K (24 bulan).

Membuat jajanan sendiri sudah pasti lebih menyehatkan dan menghemat ya. Namun dibutuhkan ekstra energi dan waktu untuk mengolahnya.

Makanya snack untuk K acap kali berupa buah segar yang dipotong-potong, segala produk olahan susu, atau buah kering seperti kismis dan kurma. Haha.

Artikel sejenis: Memilih “Snack” untuk Anak

Beralih ke resep di bawah ini, beberapa kali membuatnya masih belum menemukan kulit siomay yang pas: tidak terlalu tebal agar K bisa mengunyah dengan halus, namun bisa mengembang saat dikukus.

Setelah beberapa trial and error akhirnya memutuskan untuk membungkusnya dengan kembang tahu.

Resep tidak menggunakan tepung terigu ya, insya Allah bebas gluten. Oh iya, jika ingin memasaknya dengan menggoreng/memanggang bisa juga lho. Ayo kita cek resepnya ya!

IMG_7213

Siomay Ayam Kembang Tahu

(Resep hasil modifikasi sendiri, ukuran bahan berdasarkan perkiraan)

 

Bahan:

  • Dada ayam tanpa tulang sekitar ½ kg, cincang halus
  • 1 buah wortel ukuran medium, serut dengan parutan keju
  • 1 butir telur ayam, kocok lepas
  • 2 tangkai daun bawang
  • 2 tangkai daun seledri
  • 1 buah bawang bombay ukuran kecil, cincang
  • 3 siung bawang merah, cincang
  • 3 siung bawang putih, cincang
  • 1 sendok teh merica butiran, haluskan
  • 3 sendok makan tepung beras, tambahkan bila dirasa kurang
  • 2 sendok makan kecap asin
  • Gula dan garam secukupnya
  • Lembaran kembang tahu, potong kotak seperti kulit siomay

 

Proses memasak:

  1. Campur wortel, bumbu, daun bawang dan daun seledri menjadi satu.
  2. Masukkan kecap asin, tepung beras, gula dan garam. Cicipi rasanya.
  3. Bila bumbu sudah terasa pas, masukkan ayam dan telur. Aduk rata.
  4. Tambahkan tepung beras jika adonan terlalu encer.
  5. Bungkus dengan kembang tahu dan ikat dengan benang.
  6. Kukus hingga matang.

 

IMG_7187

Adonan siomay ayam ini bisa disimpan di dalam freezer dan sebaiknya segera dimasak dalam rentang waktu 1 minggu ya.

Simpan sisa adonan di dalam plastik lalu masukkan kedalam wadah tertutup dan letakkan di freezer.

Jika ingin memasak untuk keesokan harinya, taruh adonan beku di dalam lemari es bagian bawah saat malam hari sebelumnya.

IMG_7185

Agar kembang tahu lebih lentur saat diikat dengan benang, mungkin bisa merendamnya terlebih dahulu di dalam air sebentar saja.

Kebetulan kembang tahu yang aku beli ini rasanya asin untuk lidah kami, jadi penggunaan garam menyesuaikan ya.

Artikel sejenis: Enam “Topping” Seru “Bruschetta”

K dan ayahnya tak berhenti mencomot siomay ini di piringnya.

“Bubi, jajan habis. Mamam agi (lagi)..agi (lagi)…” kata K.

Alhamdulillah. Hehe.

Selamat memasak dan semoga si kecil juga suka ya!

 

 

 

Nia Efendi

Assalamualaikum.. Kindly drop your comments, advices, ideas, or else below. Be wise please. Bunches of thanks.

2 thoughts on “Siomay Ayam Kembang Tahu

  1. Anak saya karena bundanya sering masak sendiri, kalo dikasih makanan yang banyak penyedapnya, mereka menolak dengan sendirinya mbak. Kalo dibiasakan, lidah mereka sudah terbiasa dengan makanan yang nggak terlalu gurih ya. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*