Selamat Tinggal “Diaper”

Toilet training merupakan salah satu capaian milestones yang kami nantikan. Selain memerlukan kesiapan dari sang buah hati, ternyata proses tersebut juga mensyaratkan kesabaran yang luar biasa bagi orang tua.

Terhitung sejak berusia 18 bulan, K (23 bulan) sedang menjalani proses toilet training. Dalam kurun waktu 5 bulan terakhir, kami berusaha keras untuk membujuknya agar mau menjalani toilet training tanpa paksaan.

Mengapa hal tersebut penting bagi kami? Kami sepakat bila K akan menjalani toilet training haruslah menunggu tanda-tanda yang menunjukkan bahwa dia memang benar-benar siap.

Bahwa dia memang mau melakukannya sendiri, bukan karena keinginan kami sebagai orang tua. Apalagi, keinginan pihak lain yang ikut mendesak agar K segera bebas dari cloth diaper dan disposable diaper. Tentu saja bukan, ya! Hehe.

Kenali tanda-tanda kesiapan anak

Kapan saat yang tepat untuk memulai toilet training? Ada begitu banyak referensi yang menyebutkan bahwa tidak ada usia yang bisa dijadikan patokan kapan bisa memulai toilet training. Semuanya dikembalikan kepada kesiapan masing-masing anak.

Secara garis besar, bila si kecil memiliki beberapa tanda-tanda berikut ini, bisa dikatakan bahwa dia siap untuk memulai proses toilet training.

Apa saja?

1. Memiliki dry periods sekitar 1-2 jam. Saat bangun tidur di siang hari, biasanya diaper-nya masih kering. Ini berarti otot bladder-nya sudah mampu untuk menahan sekaligus menyimpan air seninya.

2. Mengembangkan kemampuan fisik yang signifikan: mampu berjalan, mampu melepas dan memasang celananya sendiri, duduk di potty training dan berdiri setelahnya, yang kesemuanya dilakukan dengan sedikit bantuan.

P1080506
Mandiri: K pelan-pelan bisa melepaskan celananya sendiri tanpa bantuan.

3. Menunjukkan ketertarikan dan meniru saat orang tua melakukan aktivitas Buang Air Besar/BAB dan Buang Air Kecil/BAK di kamar mandi.

4. Bisa mengikuti instruksi sederhana.

5. Memiliki kalimat sendiri yang mendeskripsikan BAB dan BAK, misalnya pipis.

6. Mulai menyadari bahwa ia akan BAB dan BAK, bisa ditandai dengan memilih untuk menyendiri di sudut ruangan saat sedang BAB, atau menghentikan aktivitasnya saat sedang BAK.

7. Memberitahu orang tua saat hendak BAB/BAK.

Tatkala kami menyadari K memiliki 3 tanda (poin 1, 2, serta 3) sebagaimana yang disebutkan maka kami mulai pelan-pelan mengenalkan toilet training sewaktu dia berusia 18 bulan.

Kali pertama, kami mengajaknya ke kamar mandi dan mengatakan “Ayah mau pipis dulu ya”, dan menyuruhnya untuk menunggu di depan pintu kamar mandi. Kami jelaskan pelan-pelan, “Kalau K mau pipis, nanti ke kamar mandi juga ya”, dan dibalas dengan tatapan polosnya.

Hari berikutnya, “Ayah mau beol dulu ya, K tunggu di depan pintu.” Kami juga jelaskan kalau K mau BAB di kamar mandi juga.

Setiap pagi setelah bangun tidur, usai tidur siang, dan menjelang tidur di malam hari kami mencoba mengajak K ke kamar mandi, namun sebatas untuk mengenalkannya dan dia menunggu di luar.

Kemudian kami ubah strateginya, meniru anjuran orang tua zaman dahulu yang telaten mengajak anaknya ke kamar mandi. Meminjam istilah bahasa Jawa dikenal dengan “ditatur/menatur”.

Intinya, anak dibawa ke kamar mandi dengan jadwal yang relatif sama setiap hari agar dia mulai memahami dan memiliki rutinitas untuk BAB dan BAK.

Misalnya, untuk mengenalkan BAB, setiap pagi anak ditatur ke kamar mandi dan distimulasi untuk mengeluarkan BAB. Untuk BAK, anak diboyong ke kamar mandi setiap pagi, siang, serta malam hari, kendati tidak ada pipis yang keluar, aktivitas tatur ini tetap dilakukan.

Kami pun ikut menatur K. Tentu saja melelahkan! Menopang berat badan sekitar 11 kilogram di pangkuan kami dengan posisi jongkok di lantai kamar mandi kami lakukan secara terjadwal.

Belum lagi memperoleh bonus pukulan-pukulan kecil karena anaknya meronta-ronta sungguh menguras tenaga dan kesabaran. Setelah berjalan beberapa minggu akhirnya kami menyerah. Haha.

Saatnya mengeluarkan jurus terakhir: potty training. Mbah Putrinya mengirimkan pispot berbentuk mobil berwarna merah untuk K. Mobil, tentu saja K akan menyukainya, proses kali ini pasti lebih gampang, begitu harapan kami.

Ternyata sama saja. Sama-sama membutuhkan tenaga ekstra dan kesabaran yang luar biasa agar K mau mencoba duduk di pispotnya selama beberapa menit saja. Haha.

Pada akhirnya kami pun memutuskan untuk sedikit bersabar menunggu lebih banyak tanda-tanda kesiapan K muncul. Bisa jadi kami terlalu ambisius agar K segera menguasai toilet training dalam waktu singkat seperti keinginan kami. Atau mungkin ada yang salah dengan cara kami saat mengenalkan proses toilet training kepada K.

Memang benar, begitu K memiliki lebih banyak tanda-tanda kesiapan yakni poin 1-6 maka prosesnya menjadi terasa lebih mudah bagi semua. Untuk tanda kesiapan ke-7, K mulai menguasainya menjelang usia 23 bulan.

Persiapan fisik dan mental

Sejak awal dikenalkan dengan disposable diaper, kulit K yang sensitif menolaknya, timbul diaper rash bila kami terlalu lama memakaikannya. Karenanya kami membeli cloth diaper yang dipakai selama beraktivitas dari pagi hingga sore hari.

Untuk malam hari, K menggunakan disposable diaper. Saat masih baru lahir hingga umurnya sekitar 1 tahun, cloth diaper dan popok kain tradisional masih cukup mengatasi volume BAK dan BAB-nya.

Diaper rash: disposable diaper dengan indikator pipis ini masih saja membuat kulit K terkena diaper rash/ruam kulit bila terlalu lama dikenakan.
Diaper rash: disposable diaper dengan indikator pipis ini masih saja membuat kulit K terkena diaper rash/ruam kulit bila terlalu lama dikenakan.

Namun lama-kelamaan, kami harus menggunakan disposable diaper dalam jumlah yang meningkat tajam.

Di tahun pertama kelahirannya, 1-2 kemasan berisi 40 lembar disposable diaper bisa digunakan dalam waktu 1 bulan. Akhir-akhir ini kebutuhannya membengkak menjadi 4-5 kemasan berisi 40 lembar disposable diaper.

P1080494

Ditambah lagi menurunnya performa cloth diaper yang acap kali cuci-kering-pakai, lengkap sudah jebolnya dana hanya untuk membeli disposable diaper. Boros banget jadinya. Selain itu juga tidak ramah lingkungan. Oh…tidak!

Sekitar 4 bulan berusaha untuk konsisten mengenalkan K pada toilet training, kami berharap agar K mau melakukannya secara sukarela. Namun, tetap saja belum menunjukkan hasil seperti yang diharapkan. Pada bulan ke-5 kami pun berencana untuk melakukan potty training lagi. Kali ini harus berhasil, begitu tekad kami.

Persiapan fisik yang kami lakukan adalah berbagi tugas saat ada kecelakaan yang terjadi selama potty training dilakukan. Entah itu air seni yang tercecer di lantai, di kasur, di kursi, di alas bermainnya K. Atau tinja yang tertinggal di celananya, lalu terjun bebas ke lantai.

Urusan mencuci pun demikian. Bila ayahnya K menyuci sprei, sarung bantal, dan sarung guling maka ibunya bertugas untuk mengepel lantai dan membersihkan K.

Kami juga berbagi “jam kerja”. Sepanjang pagi hingga sore hari adalah tanggung jawab ibunya K untuk mengajak K BAK dan BAB di pispotnya. Ditambah dengan bonus cucian segunung bila K ngompol di lantai saat sedang asyik bermain atau tanpa sadar pipis di kasur kala tidur siang.

Malam hari giliran ayahnya K bertugas: membangunkan dan mengajak K duduk di pispotnya. Tak lupa, kami memasang alarm agar bisa sama-sama terjaga di malam hari untuk membantu dan menemani K pipis di pispotnya.

Persiapan yang lebih menantang adalah dari segi mental. Secara teori, mungkin kami sudah hapal di luar kepala bahwa beberapa literatur menyarankan agar bersikap biasa saat terjadi kecelakaan kecil, tak perlu marah atau menghukum anak, demikian sarannya.

Kenyataannya bagaimana ya? Usai mencuci segunung baju, sprei, sarung bantal dan guling tanpa bantuan mesin cuci; menjemur kasur dan bantal; mengepel lantai berkali-kali, namun di sisi lain anak kita belum menunjukkan ketertarikan untuk mau menjalani potty training, apakah bisa bersikap biasa saja?

Salahkah bila kita kesal dan marah sesekali? Oh, tentu saja kami acungi banyak jempol bila ada yang bisa menahan marah dengan kondisi di atas. Kalau kami? Sesekali masih menghadiahi K dengan omelan. Hiks. Maafkan kami, ya K..

Lakukan dengan cara yang menyenangkan

Teringat akan pesan dr. Vivi dalam seminar parenting yang kami ikuti, kami pun sadar bahwa mengajarkan segala hal baru kepada anak membutuhkan usaha dan tenaga ekstra.

Seperti membangun jembatan untuk menghubungkan 2 buah tebing terjal. Terlihat sulit dilakukan, namun bukan berarti mustahil terjadi. Sekali terbentuk, jembatannya akan tertancap dan berdiri kokoh dalam waktu lama.

Nah, begitu juga yang kami alami. Setelah mencoba beberapa cara akhirnya kami memutuskan untuk menjalani potty training dengan cara yang lebih menyenangkan. Misalnya:

1. Siapkan potty/pispot dengan bentuk dan warna yang disukai anak. Saat membeli, ajaklah anak untuk memilih sesuai yang dia inginkan.

K senang sekali dengan beragam bentuk alat transportasi. Oleh karenanya, kami membeli pispot berbentuk mobil.

“Ayo, K! Duduk di mobil merah dulu ya, yuk pipis.”
“K, kalau mau pipis duduk di mobil merah ya.”

Awalnya tentu saja drama, menangis meronta-ronta tidak mau duduk. Perlahan-lahan, K segera melepas celana dalamnya sendiri dan berlari menuju pispotnya.

Usai berhasil pipis di pispotnya, ia akan bersorak:
“Dada..pipis!”
“Yaaay, pipis!”

 

2. Berikan penghargaan seperlunya saat anak berhasil melakukan.

Ketika menelusuri theurbanmama, ada yang berbagi pengalaman saat anaknya berhasil BAK dan BAB di pispotnya, dengan memberikan penghargaan sederhana yakni menyanyi dan menari bersama.

Cara ini pun kami coba terapkan kepada K. Bila K berhasil melakukan, kami menari bersama dengan gaya a la robot, meniru gambar robot yang ada di busy book-nya.

Iya, menari dengan gerakan tangan dan badan yang terlihat mau patah. Namun siapa sangka kalau K menyukai dan tertawa melihat aksi kami? Haha.

Terjadwal: Usahakan agar anak memiliki rutinitas di jam yang sama untuk BAK atau BAB. Sebelum main di luar rumah, K kami ajak untuk pipis dulu di pispotnya agar tidak ngompol di jalan.
Terjadwal: Usahakan agar anak memiliki rutinitas di jam yang sama untuk BAK atau BAB. Sebelum main di luar rumah, K kami ajak untuk pipis dulu di pispotnya agar tidak ngompol di jalan.

 

3. Tetap tenang ketika terjadi insiden kecil dan ajak anak agar mau ikut serta membersihkannya.

Memerlukan waktu yang relatif lama bagi kami untuk bisa sepenuhnya bersabar dan tenang menghadapi insiden selama potty training dilakukan. Alhamdulillah, ketika K sudah semakin siap, segala kerepotan pun berkurang secara bertahap.

Kali pertama kami belum menemukan jadwal yang pas, terasa melelahkan bagi K dan kami. K menangis saat kami minta untuk duduk di pispotnya sekitar 30 menit usai minum. Kami pun tak jarang kehabisan tenaga dan kesabaran menghadapi seluruh kecelakaan yang terjadi.

Setelah proses trial and error, akhirnya kami menemukan jadwal yang pas: setiap 1 jam sekali kami mengajak K untuk BAK dan mengajaknya BAB setiap pagi hari usai bangun tidur. K pun mulai terbiasa dengan ritme tersebut.

Kecelakaan kecil yang terjadi juga terasa mudah dilalui karena K ikut terlibat saat kami membereskan.

Ah, tentu saja K tidak ikut menjemur kasur dan bantal, tidak juga mencuci bajunya ya! Cukup dengan duduk manis di kursinya dan membiarkan kami membersihkannya, itu sudah sangat membantu sekali. Haha.

 

4. Berikan semangat dan pengertian dengan kalimat yang dia mengerti.

Poin ke-4 ini tidak sadar kami temukan seiring berjalannya waktu menemani K menjalani potty training-nya. Kemampuan bahasa yang semakin terasah dan kemampuan komunikasinya yang semakin baik, membuat kami perlu untuk mengajaknya berbicara dengan kalimat yang dia pahami.

Semisal:
“K, sekarang sudah besar ya! Pintar lho. Sudah bisa makan sendiri. Tambah pintar lagi kalau pipis sendiri di pispot ya.”

“K, lihat celana dalamnya ada gambar mobil. Bagus ya! Kasihan kan kalau mobilnya basah kena pipis. Yuk, pipis di pispot ya.”

“K, mau jalan-jalan lihat bedug di masjid? Sebelum berangkat pipis dulu ya.”

“Semalam K ngompol, kasurnya basah. Kasihan bantal dan guling beruang juga ikut basah. Sebelum bobo, mau kan K pipis dulu?”

Konsisten: Usai minum, 1 jam setelahnya K biasanya akan kami ajak untuk duduk di pispotnya.
Konsisten: Usai minum, 1 jam setelahnya K biasanya akan kami ajak untuk duduk di pispotnya.

 

5. Perlengkapan pendukung seperlunya, seperti sprei waterproof dan celana dalam anak.

Agar K segera menyadari bahwa dia sedang BAK ataupun BAB maka kami menanggalkan cloth diaper beserta disposable diaper selama potty training. K mengenakan celana dalam yang tentu saja dengan motif alat transportasi yang dia suka. Dan berwarna-warni pula.

P1080509

K akan memilih dan membongkar tumpukan celananya, hanya untuk memastikan bahwa dia sudah melihat gambar mobil, pesawat, kereta, truk, helikopter dan lainnya seraya menyebutkan dan menunjuk gambarnya satu per satu.

P1080517

Perlengkapan lainnya adalah sprei waterproof. Sprei ini berfungsi untuk melindungi lapisan kasur dari pipis. Sprei waterproof ini kami bentangkan di atas kasur lalu kami lapisi dengan sprei kain.

Bila K pipis sepanjang tidur di siang hari maupun malam hari, kami tinggal mengganti sprei kain dan mengelap sprei waterproof dengan air.

Ada kutipan yang sangat aku sukai mengenai toilet training. Mungkin bisa dijadikan penyemangat bagi teman-teman yang sedang mengalami hal serupa ya.

Finding a toilet training method that works for your family is the key. No matter how you do it, remember this is a learning process that takes time, with many accidents along the way. Being patient is the best way you can support your child as she learns.
(Zero to Three)

 

Di usianya sekarang 23 bulan alhamdulillah K berhasil melakukan potty training sepanjang pagi hingga malam menjelang tidur dan sudah tidak mengenakan diaper. Kecuali saat bepergian dengan jarak yang jauh dari rumah dan dalam waktu lama ya.

Sepanjang perjalanan/aktivitas di luar rumah, K juga kami ajak ke kamar mandi, seperti di masjid atau pusat perbelanjaan.

Pekerjaan rumah yang harus kami selesaikan adalah melepaskan cloth diaper dan disposable diaper-nya di malam hari. Bismillah semoga segera terlaksana ya, K..

Mau berbagi tips tentang toilet training di sini? Boleh banget lho!

 

Referensi:

Baby Centre

Zero to Three

Nia Efendi

Assalamualaikum.. Kindly drop your comments, advices, ideas, or else below. Be wise please. Bunches of thanks.

2 thoughts on “Selamat Tinggal “Diaper”

    1. Kalau dari referensi yang aku baca sih begitu mba hehe. Tapi kalau ortunya mau memutuskan duluan sih ya gpp. Tergantung sih ya mba. Aku sih nunggu anakku siap dulu. Itu pun butuh waktu berbulan-bulan ternyata. Haha. Btw, thanks ya udah main:)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*