Cegah Dehidrasi Saat Anak Diare

Kala anak dilanda diare, tak jarang banyak orang tua yang melupakan betapa pentingnya menjaga asupan cairan. Padahal, kehilangan cairan tubuh bisa berdampak fatal.

 

Diare bisa disebabkan oleh banyak hal, diantaranya karena infeksi virus, bakteri, serta parasit. Kurangnya kebersihan lingkungan, bersentuhan dengan hewan peliharaan, makanan dan minuman yang terkontaminasi, dan kurang menjaga kebersihan tangan bisa memicu diare.

Diare menyebabkan kehilangan garam (natrium) dan air secara cepat. Jika kedua komponen penting tersebut tidak digantikan dalam waktu cepat maka tubuh akan mengalami dehidrasi. Lebih lanjut, bila kita kehilangan 10 persen cairan tubuh maka kematian akan menjelang. Pada kasus diare berat juga bisa menyebabkan kematian. Mengerikan bukan?

K (22 bulan) baru saja melewati beberapa kejadian yang menguji kekebalan tubuhnya. Mulai dari pilek akibat tertular ayah dan ibunya, demam seharian tanpa sebab hingga 40 derajat Celcius, dan diare.

Artikel sejenis: Tips Mengatasi Batuk Pilek & Resep Mi Kuah

Mungkin bulan Oktober 2016 ini memang sedang musim peralihan, begitu pikir kami, karena pergantian cuaca bisa langsung berubah dengan cepat. Siang hari begitu teriknya dan sore hari mendadak bisa hujan deras disertai petir.

Baiklah. Mari merapatkan barisan ya, K. Belajar lagi dari sumber yang terpercaya. Bismillah…

Siapkan bekal bacaan yang cukup

Cairan, cairan, dan cairan. Inilah yang seringkali diingatkan oleh dr. Wati, pendiri Milis Sehat ketika ada yang berbagi cerita mengenai penanganan diare. Kendati informasi ini terasa begitu familiar di benak kami, namun kenyataan akan berkata lain bila rasa panik menghampiri kan?

Bisa dibilang inilah diare pertama yang dialami K. Sebelumnya, ketika memulai MP-ASI perdana K juga sempat mengalami diare, namun tidak dalam waktu yang lama. Seingatku, hari kedua fesesnya mulai kembali normal.

Kurang lebih berikut ini kronologisnya ya, maaf apabila catatan tidak detail. Hehe.

1. 11 Oktober 2016
Hari pertama dimulai dengan feses K yang bertekstur lembek dengan frekuensi BAB 6 kali sehari. Awalnya kami menduga, K mungkin terserang diare karena mencicipi makanan yang agak pedas sehari sebelumnya.

2. 12 Oktober 2016
Bangun tidur sekitar pukul 5 pagi, K BAB dengan tektur yang masih lembek. Sepanjang pagi hingga siang hari total BAB sebanyak 4 kali, disertai dengan tekstur lebih cair dan berampas.

Aku mencoba menawarkan Oral Rehydration Solution (ORS) atau oralit, namun K hanya mau meminumnya beberapa sendok saja.

3. 13 Oktober 2016
Lewat waktu Subuh, K BAB sebanyak 2 kali. Siang hari aku tawarkan air kelapa dan buah jeruk. Sore harinya K BAB sebanyak 2 kali, dengan tekstur cair dan berampas.

4. 14 Oktober 2016
Sepanjang hari yang dicatat oleh ibunya, K BAB sebanyak 4 kali dengan tekstur cair dan berampas.

5. 15 Oktober 2016
Alhamdulillah pada hari ke-5 K BAB sebanyak 2 kali dengan tekstur normal seperti sediakala.

6. 16 Oktober 2016
Pada hari terakhir, tekstur dan frekuensi BAB kembali normal: 1 kali sehari dengan tekstur normal.

Kami sangat bersyukur ketika menemani K melewati masa penyembuhan, dia masih bisa diajak untuk minum segala bentuk cairan yang kami tawarkan.

Namun, kami memiliki pekerjaan rumah yang masih belum terselesaikan: memberinya oralit. Uh, susah banget!

P1080465

Alhamdulillah selama mengalami diare kemarin, K masih beraktivitas seperti biasa. Masih lincah dan aktif berlarian di pekarangan rumah Mbah Putrinya, membantu menyapu dan menyirami tanaman, lalu asyik bermain bersama dengan saudara sepupunya. Iya, kebetulan kami sedang berlibur. Hehe.

K juga masih doyan makan aneka menu yang dibuat untuknya. Agar asupan cairannya terpenuhi, aku membuatkan menu makanan berkuah dan semuanya dimakan dengan lahap.

Tak ketinggalan, Mbah Putrinya juga membuatkan rawon. Kalau yang ini, K doyan banget deh sampai tetes terakhir! Haha. Kami juga memberikan es krim, roti, dan snack yang berkalori tinggi untuk memulihkan tenaganya.

Selain itu, K tidak mengalami demam. Tidak juga rewel berlebihan. Melihat gejala klinisnya yang terlihat baik-baik saja, maka kali ini tidak ada alasan bagi kami untuk panik kan?

Artikel sejenis: Tak Perlu Panik Jika Anak Demam

Kami berusaha untuk berpikir rasional dengan memberikan perawatan yang diperlukan oleh K, menjaga terpenuhinya cairan, memberikannya waktu istirahat yang cukup, dan makanan yang bergizi.

P1080093
Makanan berkuah: “Uah..uah..uah!” seru K setiap kali ada makanan berkuah tersaji di mangkuknya. Soto ayam kampung berlimpah kuah lengkap dengan sayuran, telur, serta perasan jeruk nipis bisa dijadikan menu alternatif saat anak diare. Enak tentunya!

Kami juga tidak mengintervensinya dengan pemberian obat untuk menghentikan diare. Selama 6 hari, kami terus memantau dan waspada bila ada tanda gawat darurat yang bisa saja muncul.

Semua informasi tersebut kami pelajari terus-menerus agar menjadi bekal yang memadai saat harus mengalaminya.

Selalu simpan oralit

Sebelum menjadi orang tua yang sadar akan pentingnya oralit, tentu saja kami tidak menyimpannya di dalam rumah.

“Apa sih pentingnya oralit?”
“Ah, gampang, kalau memang perlu oralit tinggal mampir ke apotek di dekat rumah!”
“Buat apa minum oralit, kan bisa minum air putih, jus buah, teh, dan lainnya?”

Itu beberapa pertanyaan yang ada di pikiran kami. Ada yang berpendapat sama? Ternyata kita salah, teman-teman. Hehe. Oralit harus disimpan di dalam kotak obat untuk mencegah dehidrasi, baik yang disebabkan oleh muntah maupun diare.

Mengapa harus oralit, bukan yang lain? Berikut ini aku kutip dari Kids Health ya:

1. Many of the “clear liquids” used by parents or recommended by doctors in the past are no longer considered appropriate for kids with diarrhea.

2. Don’t offer: plain water, soda, ginger ale, tea, fruit juice, gelatin desserts, chicken broth, or sports drinks. These don’t have the right mix of sugar and salts and can even make diarrhea worse.

3. Infants and small children should never be rehydrated with water alone because it doesn’t contain adequate amounts of sodium, potassium, and other important minerals and nutrients.

4. Doctors often recommend that kids who show signs of mild dehydration be given oral rehydration solutions to replace body fluids quickly.

5. These are available in most grocery stores and pharmacies without a prescription. Brand-name solutions often end in “lyte.” Your doctor will tell you what kind to give, how much, and for how long. Never try to make your own ORS at home unless your doctor says it’s OK and gives you a precise recipe.

Bagaimana? Penjelasan singkat dari Kids Health di atas semoga sudah bisa memberikan gambaran tentang betapa pentingnya oralit ya, teman-teman.

Oh iya, aku kutip juga ya hal penting lainnya yang perlu diketahui terkait penanganan diare dari bukunya dr. Wati:

1. Bila ada darah di tinja, periksakan tinja di laboratorium untuk mengetahui kemungkinan terjadinya infeksi parasit.

2. Bila penyebabnya obat atau antibitiok maka hentikanlah pemberian obat tersebut.

3. Bila bayi tidak ASI eksklusif maka susu formula tidak perlu diganti dengan susu rendah lemak/bebas laktosa/susu kedelai.

4. Umumnya diare akan sembuh sendiri dalam 2-3 hari karena kebanyakan diare pada bayi dan anak disebabkan oleh infeksi virus.

5. Jangan berikan antibiotik kecuali bila diarenya disebabkan oleh infeksi parasit. Sebagian besar diare karena infeksi bakteri pun tidak memerlukan antibiotik.

6. Jangan berikan obat antimuntah atau obat untuk menghentikan diare.

Mengapa tidak dianjurkan? Obat semacam ini tidak dapat mengobati penyakitnya; kalaupun anak tampak membaik maka perbaikan tersebut bersifat semu yang justru membahayakan karena kita tidak menyadari bahwa sebenarnya penyakitnya terus berproses; dan obat-obat tersebut juga memiliki efek samping.

P1080485

Walaupun kami sudah menyadari arti penting oralit, memberikannya kepada K merupakan suatu tantangan tersendiri. Ragam cara yang sudah pernah kami coba antara lain mencampurkannya kedalam air matang hangat, air matang dingin, ataupun dicampur dengan air perasan buah jeruk.

Agar K tertarik untuk mencicipinya bersama-sama, kami pun turut serta mencampurkannya kedalam gelas yang biasa dipakai. Dengan harapan, dari gelas manapun K minum, rasanya akan tetap sama: oralit.

Menyeruputnya langsung dari gelas minumnya, meneguknya dari gelas minum kami, atau menyendokinya pelan-pelan juga kami coba. Semuanya masih saja ditolak.

Ada yang memiliki pengalaman serupa? Bagaimana tips agar anak mau meminum oralit dengan sukarela ya? Silakan ya kalau berkenan berbagi pengalaman di sini. Hehe.

Seringlah mencuci tangan

Mengingat ini kali pertama K mengalami diare, kami sempat was-was juga tentang penyebabnya. Apakah kami sudah benar-benar menjaga kebersihan rumah, makanan, minuman, dan mengajaknya untuk rajin cuci tangan?

Mungkin saja kejadian tersebut menjadi sebuah pengingat bagi kami akan pentingnya mencuci tangan. Meskipun belum benar-benar melakukan langkah-langkah yang dianjurkan, minimal kami harus konsisten untuk mengajak K mencuci tangan dengan sabun menggunakan air mengalir.

Baik itu setelah menggunakan kamar mandi, sebelum dan sesudah makan, usai beraktivitas di luar rumah, maupun setelah menyentuh hewan peliharaan milik tetangga.

Mengapa? Karena tangan yang tidak bersih merupakan pintu gerbang masuknya beragam penyakit.

Good hand washing is the first line of defense against the spread of many illnesses — from the common cold to more serious infections, such as meningitis, bronchiolitis, the flu, hepatitis A, and most types of infectious diarrhea.
(Kids Health)

Oh iya, kami juga menggunakan sabun cuci tangan biasa, bukan sabun antibakteri. Dalam beberapa literatur yang kami baca, sabun antibakteri belum terbukti keampuhannya lho. Selain itu harganya juga biasanya lebih mahal dibandingkan dengan sabun cuci tangan biasa. Lebih hemat juga kan? Haha.

Ayo, ajak si kecil untuk rajin mencuci tangan agar tidak gampang terserang penyakit ya! Semoga kita semua senantiasa sehat ya teman-teman.

 
Referensi:
dr. Purnamawati S. Pujiarto, SpAK, MMPed. Cetakan V, Februari 2012. Bayiku Anakku: Panduan Praktis Kesehatan Anak. Jakarta : PT Gramedia.

Milis Sehat

Kids Health

Kids Health

Nia Efendi

Assalamualaikum.. Kindly drop your comments, advices, ideas, or else below. Be wise please. Bunches of thanks.

2 thoughts on “Cegah Dehidrasi Saat Anak Diare

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*